Kami
mempunyai 2 kandang pembesaran dengan ukuran sebagai berikut : panjang
9 meter, lebar 5.5 meter dan tinggi 3.5 meter. Konstruksi bangunan
terbuat dari batako, kawat loket, dolken dan kayu. Batako ini kami
gunakan sebagai pondasi bangunan dan dilanjutkan sebagai dinding
bagian bawah sekitar 15 cm dari permukaan tanah selanjutnya disambung
dengan menggunakan kawat loket.. Kandang ini
dibangun dengan system dinding terbuka menggunakan kawat loket
berdiameter 5 cm dengan harapan sirkulasi udara dan sinar matahari
dapat masuk tanpa kecuali. Kami membangun kandang ini dengan
menggunakan batako dari tanah yang memang harganya jauh lebih murah.
Dolken sebagai tambahan, sengaja kami lakukan karena harganya juga
lebih murah dibandingkan kayu kaso. Kayu yang kami gunakan adalah sisa
dari hasil penebangan pohon-pohon di lokasi peternakan kami yang tidak
kami kehendaki. Dengan demikian efisiensi biaya pembangunan dapat kami
lakukan.(foto konstruksi kandang
pembesaran)
Kandang
pembesaran ini beratapkan asbes.
Pada tengah-tengah atap bangunan dipasang fiber untuk
memudahkan sinar matahari masuk ke kandang. Seperti halnya kandang
kawin, asbes sengaja kami pilih untuk lebih menghemat biaya. Kandang
ini kami lengkapi dengan selasar selebar 1.2 meter. Selasar ini
berfungsi untuk menahan air hujan agar tidak tampyas ke
kandang. Selasar ini juga
digunakan untuk melindungi petugas saat membawa pakan pada
musim penghujan. Seperti yang telah kita ketahui, pakan yang terkena
air akan lebih mudah rusak dan berjamur.pakan yang sudah berjamur akan
menyebabkan ayam menjadi mudah sakit. Sedangkan pada ujung kandang,
atap kami asbes kami sisakan selebar 1 meter agar air hujan tidak
masuk ke kandang.
Kawat
loket yang kami gunakan mempunyai lebar 2 meter. Kawat ini kami pasang
melingkari kandang. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tinggi
kandang ini adalah 3.5 meter, atapnya kami bangun dengan kemiringan
tertentu sehingga pada dinding kandang ketinggiannya hanya 2.5 meter.
Setelah kawat loket dipasang, akan menyisakan lubang sekitar 0.5 meter
yang masih terbuka pada dinding tersebut. Kami menutupnya dengan
memasang belahan-belahan bambu yang dipasang dengan jarak sekitar 1,5
cm. Bambu ini digunakan untuk melindungi ayam dari serangan kucing
atau tikus.
Kandang
pembesaran ini kami
bangun membujur dari timur ke barat agar mendapatkan sinar matahari
pagi dan sore. Kami mengatur agar letak kandang pembesaran
berseberangan dengan kandang baterai. Menurut referensi, jarak antar
kandang yang baik adalah selebar kandang yaitu sekitar 5 meter, namun
demikian kami membuat jarak antara kedua kandang tersebut hanya 3
meter dengan sudut yang kami atur sedemikian rupa dan disesuaikan
dengan tanah yang ada, sinar matahari pagi yang masuk sekitar pukul
08.00 hingga 10.00. Jarak kandang dengan pagar seng sekitar 2.5 meter
sehingga pada sore hari sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 sinar
matahari dapat menerangi hingga tengah-tengah kandang dengan sisi yang
berlawanan. Sinar matahari tersebut akan membuat kandang menjadi tidak
lembab dan menyebabkan kotoran ayam menjadi lebih mudah kering.
(foto
kandang dan tempat air)
Lantai
kandang kami diplester dengan semen, termasuk dinding bawah yang
terbuat dari batako, karena jika tidak, maka ayam akan mematuk dinding
batako. Hal ini memang sering dilakukan oleh ayam dalam kehidupan
bebas, ayam-ayam tersebut akan mematuk kerikil atau pasir kasar untuk
membantu pencernaannya. Jika tidak dilapisi semen maka dinding akan
menjadi rusak. Pada samping kandang di bawah selasar yang kami bangun,
kami plester dengan semen selain untuk tempat berjalan dan membawa
gerobak pakan atau minum, plester semen ini juga digunakan untuk
menjaga kebersihan kandang karena sekam yang keluar dapat disapu dan
dibersihkan.
Kandang
seluas 49.5m2 ini dapat digunakan untuk membesarkan ayam sebanyak 500
ekor mulai dari DOC hingga siap masuk ke kandang baterai dengan acuan
setiap m2 untuk 10-15 ekor ayam.
Persiapan yang harus dilakukan sebelum dipakai, kandang
disemprot dengan air, disikat dan dikeringkan, lalu disemprot
dengan Desogerm mulai dari lantai, dinding hingga langit-langit dan
seluruh peralatan yang ada lalu didiamkan hingga kering. Setelah
kering kandang ditaburi sekam
dengan
tebal sekitar 5 cm dan disemprot kembali dengan menggunakan Desogerm.
Tidak ubahnya dengan penyemprotan sekam pada kandang yang lain, sekam
harus dibolak-balik hingga seluruh sekam terkena Desogerm. Hal yang
perlu diingat adalah penyemprotan sebaiknya dilakukan pada suiang hari
dan sedapat mungkin di hari yang cerah supaya sekam lebih cepat kering
dan tidak menjadi lembab. (foto kandang
yang sudah ditaburi sekam)
Chickguard
adalah pembatas untuk memagari DOC. Kami membuat chickguard ini dengan
seng plat lebar 45 cm. Pada peternakan kami, chick guard yang kami
buat terbuat dari 2 lapis seng plat yang dilubangi pada bagian kedua
sisinya pada jarak yang sama sehingga kedua lapis seng tersebut dapat
diikat dengan jarak tertentu dengan menggunakan kawat. Panjang seng
tersebut tergantung dari diameter lingkaran yang dibuat. Kami membuat
chick guard ini sepanjang 20 meter. Untuk membuat lingkaran dengan
diameter 3 meter dibutuhkan
±
15 meter seng. Sisa seng ini digunakan untuk memperlebar lingkaran
jika mulai terlihat sempit. Agar dapat didirikan, chick guard kami
topang dengan bilah-bilah bambu yang diikat salah satu ujungnya dengan
menggunakan kawat. (foto chickguard yang
belum ada ayamnya)
Menurut
referensi yang kami dapatkan, untuk 750 ekor DOC
dapat ditampung pada lingkaran dengan diameter lingkaran 3
meter, namun menurut pengalaman kami, kami memelihara 1000 ekor ayam
dalam lingkaran dengan diameter yang sama. Di dalam lingkaran dialasi
seluruhnya dengan 7 lapis kertas koran. Setiap hari selapis demi
selapis kertas koran tersebut dibuang. Tujuan penutupan sekam dengan
koran adalah selain tidak lembab, juga untuk menjaga agar ayam tidak
mematuk sekam karena ayam tersebut belum dapat membedakan antara pakan
dengan sekam. (foto DOC dalam chickguard)
Setelah
semuanya selesai kandang ditutup rapat dengan terpal dan dibiarkan
selama 1 minggu. Penutupan ini dimaksudkan agar kandang tetap dalam
keadaan bersih dan tidak terkontaminasi oleh kuman dari lingkungan
sekitar. Terpal ini nantinya akan tetap terpasang hingga DOC masuk ke
kandang karena terpal ini juga berguna untuk menahan udara dingin. (foto
chick guard komplit)
Perlengkapan
lain yang harus disediakan adalah pemanas. Pemanas dipasang di
tengah-tengah lingkaran chick guard yang telah dibuat. Kami
menggunakan adalah pemanas dengan sumber panas minyak tanah. Mekanisme
kerja alat ini mirip
kompor, akan tetapi dilengkapi dengan sungkup menghadap ke bawah dan
dipasang dengan ketinggian
±60
cm. Pada langit-langit kandang dipasang jerigen 20 lt yang digunakan
sebagai penampung minyak
tanah. Setiap 2 hari sekali minyak tanah ini harus diisi kembali.
(foto
pemanas minyak tanah)
Pemanas
ini dinyalakan mulai sore hari hingga pagi hari. Pada musim penghujan,
pemanas ini dinyalakan siang dan malam untuk memberikan kehangatan
pada DOC. Pemasangan pemanas yang benar akan membuat DOC menyebar
dalam chick guard.Jika terlalu dingin DOC akan berkumpul di bawah
chick guard, sedangkan jika terlalu panas maka DOC akan merapat pada
dinding chick guard. (desain gambar DOC
kedinginan, kepanasan dan tersebar merata)
Yang perlu diperhatikan pada pemasangan pemanas
ini adalah ketinggian pemanas harus diatur sedemikian rupa sehingga
selalu membuat panas yang merata ke seluruh ruang chickguard.
Pemasangan instrumen alat pemanas yang salah akan mengakibatkan
kebocoran. Kebocoran ini harus ditanggulangi segera karena selain
berpotensial untuk menyebabkan kebakaran, DOC yang terjebak pada
kubangan minyak ini akan mati keracunan dan kedinginan.